TIGA ORANG YANG AKAN DITOLONG OLEH ALLAH
Dari
Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam telah bersabda :
ثلاث حق على الله
عونهم : المجاهدفى سبيل الله، المكاتب يريدالأداء، والناكح يريد العفاف (رواه
الترميذى)
“Tiga orang yang pasti
Allah akan menolong mereka : orang yang
berjihad di jalan Allah, Mukatab yang ingin menebus dirinya dan orang yang menikah dengan tujuan menjaga dirinya (dari yang haram)” (Hadits
tersebut dikeluarkan oleh At-Tirmidz 4/184, Nasa’i
6/61, Al-Hakim dalam Al-Mustadrak 2/160. At-Tirmidzi mengatakan : hadits hasan,
Al-Hakim menyatakan shahih
berdasarkan syarat Muslim dan
di setujui
oleh Ad-Dzahabi )
Kosa
Kata Hadits
:ثلاث حق على الله عونهمMaksudnya adalah pertolongan dari Allah untuk mereka adalah pasti atau wajib
bagi Allah menolong mereka sesuai
dengan konsekuensi janjinya.
المكاتب :Yaitu
hamba sahaya yang melakukan mukatabah (menebus
diri untuk merdeka) dengan tuannya dengan cara
membayar harta secara kredit. Apabila ia telah lunas membayarnya, maka merdekalah ia.
:الأداءMembayar tebusan kepada tuannya sebagai tebusan bagi dirinya.
Orang
yang menikah yang bermaksud adalah
untuk menjaga kemaluannya dari zina,
homoseks dan yang semacamnya.
Makna
Dari Hadits :
Allah telah menjanjikan kepada para
hambanya yang beriman dengan
pertolongan dan bantuan dariNya selama mereka bertakwa, beriman dan beramal shaleh serta mengikhlaskan agama hanya
kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Allah
Ta’ala berfirman :
وَعَدَ اللَّهُ
الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي
الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ
دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ
أَمْنًا ۚ يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا ۚ وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman
diantara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh
akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia akan meneguhkan bagi
mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan
merobah (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman
sentausa.Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun
dengan Aku” (An-Nur : 55)
وَالَّذِينَ
جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
“Dan orang-orang
yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada
mereka jalan-jalan Kami.Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang
yang berbuat baik” (Al-Ankabut : 69)
إِنَّ اللَّهَ مَعَ
الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ
“Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan”
(Al-Ankabut : 128)
Dan Allah
telah memberi kekhususan bagi sebagian orang untuk mendapatkan tambahan pertolongan dan bantuan dariNya. Di antara mereka
adalah orang-orang yang
disebutkan dalam hadits ini, yaitu : orang yang berjihad di jalan Allah, orang yang menikah yang ingin menjaga dirinya (dari perbuatan
haram) dan mukatib yang
benar-benar ingin membayar tebusan dirinya. Dalam hadits ini terdapat isyarat yang terkandung bahwa seorang mukmin, mungkin baginya untuk
melakukan perkara-perkara
seperti ini walaupun dia tidak memiliki sarana yang cukup. Ini karena sangat percayanya dia terhadap kepastian pertolongan dan
bantuan dari Allah.
Alasan
dikhususkannya tiga orang tersebut, sebagaimana dikatakan oleh Ath-Thibi : “Karena perkara-perkara ini adalah termasuk dari perkara yang
sangat berat yang menyulitkan
dan sangat membebaninya”
Pelajaran
Yang Bisa Diambil Dari Hadits
- Pertolongan Allah bagi hamba-hambaNya yang beriman dan mereka bertiga
disebut secara khusus dalam hadits, dikarenakan sangat beratnya kesusahan yang mereka alami dalam perkara-perkara
tersebut.
- Dianjurkannya menolong para mereka yang
disebutkan dalam hadits, karena itu adalah termasuk pemberian pinjaman kepada Allah dengan
cara yang baik (al-qardhul hasan). Walallahu A’lam
(Diterjemahkan dari kitab “Arba’una Haditsan Kullu Hadits
Fii Tsalatsi Khishol”, penyusun : Syaikh Shaleh As-Sadlan, diposting oleh Abu
Maryam Abdusshomad)
ABU UMAMAH AL-BAHILI MENDAKWAHI ORANG
KAMPUNGNYA
Abu Umamah Al-Bahili, demikian
panggilan popular sahabat ini. Panggilan ini (kun-yah) mengalahkan ketenaran
nama aslinya. Terlahir dengan nama Shudai bin Ajlan, dari suku Bahilah.
Termasuk sahabat yang banyak memiliki riwayat dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa
sallam. Wafat pada tahun 81 atau 86 H.
Tugas dakwah dari Nabi shalallahu
‘alaihi wa sallam menjadi tanggungan di pundaknya. Ia didelegasikan untuk
menyeru kaumnya sendiri, orang-orang yang masih terkait hubungan darah
dengannya. Imam Ath-Thabrani meriwayatkan misi dakwah Abu Umamah di kampung
halamannya, suku Bahilah. Ia menuturkan, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa
sallam mengutusku (untuk berdakwah) kepada kaumku, suku Bahilah. Sesampai di
sana aku dalam keadaan lapar. Saat itu, mereka sedang menyantap makanan. Namun
mereka menyatap makanan yang terbuat dari darah. Mereka menghormati diriku
dengan menyambut kedatanganku;
“Selamat datang wahai Shudai bin
Ajlan. Kami dengar engkau telah keluar dari agama nenek moyang untuk mengikuti
laki-laki itu (Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam).”
“Bukan seperti itu. Aku hanya beriman
kepada Allah dan rasul-Nya. Ia pula mengutusku untuk menawarkan Islam dan
syariat kepada kalian.” Jawab Abu Umamah radhiallahu’anhu.
Mereka malah mempersilakan aku untuk
bersantap bersama menikmati hidangan dari darah, “Kemarilah, makan (bersama
kami).”
“Celaka kalian. Aku datang untuk melarang
kalian dari ini (makan darah). Aku adalah utusan dari Rasulullah shalallahu
‘alaihi wa sallam agar kalian mau mengimani beliau.” Terang Abu Umamah.
Mulailah Abu Umamah radhiallahu’anhu
mendakwahi dan menyeruk mereka untuk memeluk Islam. Akan tetapi, mereka
mendustakan dan membentaknya. “Bisa saya minta sedikit air, aku haus sekali.”
Kata Abu Umamah meminta.
Akan tetapi mereka menolaknya dan
mengatakan, “Tidak, kami akan membiarkan engkau mati kehausan!” sergah mereka.
Dalam keadaan lapar dan haus yang
menjerat, Abu Umamah beranjak dari sisi mereka. Ia bersedih hati. Kain imamah
ia tutupkan ke kepalanya. Kemudian tertidur meskipun dalam keadaan cuaca yang
sangat panas itu. Dalam tidurnya, ia bermimpi disodori minuman dari susu, tidak
pernah ada susu yang lebih lezat darinya. Ia meminumnya sampai kenyang sehingga
perutnya tampak penuh.
Setelah perlakuan kasar yang
ditujukan kepada Abu Umamah, orang-orang di sukunya berkata (karena menyesal),
“Seorang lelaki dari tokoh dan pembesar suku datang, tapi kalian
mencampakkannya. Cari dan berilah ia makan dan minum yang ia inginkan.”
Kemudian mereka mendatangi Abu Umamah
radhiallahu’anhu dengan membawa makanan. Beliau menyambut kedatangan mereka
sambil mengatakan, “Aku sudah tidak butuh lagi makanan dan minuman dari kalian.
Allah ‘Azza wa Jalla telah memberi makan dan minuman kepadaku. Lihatlah
kondisiku sekarang.”
Beliau perlihatkan perutnya yang
penuh. Mereka melihatnya dan akhirnya beriman kepada apa yang Abu Umamah
dakwahkan dari sunah Rasul shalallahu ‘alaihi wa sallam. Semuanya pun beriman
kepada Allah dan rasul-Nya.
PERTOLONGAN ALLAH UNTUK ORANG YANG
JUJUR
Kisah Muslim – Abu Hurairah
radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bahwa seorang laki-laki dari kalangan Bani Israil meminta kepada seseorang Bani
Israil lainnya agar memberikan pinjaman kepadanya seribu dinar. Lalu si pemberi
pinjaman berkata, “Datangkanlah para saksi. Saya meminta mereka untuk
bersaksi.”
Lantas orang yang meminta pinjaman
berkata, “Cukuplah Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menjadi saksi.” Pemberi pinjaman menambahkan,
“Datangkanlah seorang penjamin,.”
Dia menjawab, “Cukuplah Allah Subhanahu
wa Ta’ala sebagai penjamin.” Pemberi pinjaman berkata, “Engkau benar.” Kemudian dia menyerahkan piutang tersebut kepadanya
sampai waktu yang ditentukan.
Selanjutnya si peminjam pergi
mengarungi lautan untuk memenuhi kebutuhannya. Setelah itu, dia mencari
kendaraan yang akan digunakan untuk mendatangi pemberi pinjaman sesuai waktu
yang telah ditetapkan. Ternyata dia tidak menemukan kendaraan. Lantas dia
mengambil kayu dan melubanginya, lalu dia memasukkan seribu dinar di dalamnya
dan selembar kertas darinya untuk temannya (si pemberi pinjaman). Kemudian dia
meratakan tempatnya kembali.
Selanjutnya dia membawa kayu tersebut
ke laut. Dia berkata, “Ya Allah! Sungguh, Engkau mengetahui bahwa saya meminjam
seribu dinar kepada si fulan, lalu dia meminta penjamin kepadaku dan saya
berkata, ‘Cukuplah Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai penjamin.’ Dia pun ridha
karena Engkau. Dia juga meminta saksi, lalu saya berkata, ‘Cukuplah Allah
Subhanahu wa Ta’ala menjadi saksi.’ Dia pun ridha karena Engkau. Sesungguhnya
saya telah bersusah payah untuk menemukan kendaraan untuk mengantarkan utangku
kepada pemiliknya, ternyata saya tidak menemukan. Sungguh, saya menitipkan kayu
ini kepada-Mu.”
Lantas dia melemparkannya ke laut
sampai masuk ke dalam laut kemudian bergerak. Di samping itu dia masih saja
mencari kendaraan untuk menuju ke daerahnya.
Di lain pihak, si pemberi pinjaman
menanti-nanti barangkali kendaraan yang membawa piutangnya telah datang.
Ternyata ada kayu yang mengapung di dekatnya. Lalu dia mengambil kayu tersebut
untuk dijadikan sebagai kayu bakar buat keluarganya. Ketika dia menggergajinya,
dia menemukan uang dan selembar kertas. Kemudian si peminjam hutang datang dan
memberikan seribu dinar, lalu dia berkata, “Demi Allah, saya telah bersusah
payah mencari kendaraan untuk menyerahkan piutangmu. Ternyata saya tidak
menemukan kendaraan sebelum saya datang sekarang ini.”
Setelah beberapa waktu kemudian,
teman yang meminjam uang darinya telah sampai. Dia bertanya, “Apakah engkau
pernah mengirimkan sesuatu kepadaku?”
Dia menjawab, “Saya kan sudah bilang
bahwa saya tidak menemukan kendaraan sebelum saya datang sekarang ini.” Dia berkata, “Allah telah
mengantarkan darimu sesuatu yang engkau kirimkan melalui kayu dan mengalir
dengan membawa seribu dinar.”(HR. Al-Bukhari).
Sumber: Hiburan Orang-orang Shalih,
101 Kisah Segar, Nyata dan Penuh Hikmah, Pustaka Arafah Cetakan 1
MENIKAH DI USIA MUDA
Kisah
ini dimulai saat saya masih menjadi seorang mahasiswi,
usia saya saat itu 21 tahun. Ketika itu, saya
memiliki kekasih yang berusia satu tahun lebih tua dari
saya. Dia adalah pria yang baik, tidak pernah meninggalkan
ibadah wajib dan memiliki usaha sablon pakaian
sejak lulus dari SMA.
Memang,
usahanya ini masih skala kecil, tetapi kesungguhannya
untuk mandiri membuat saya percaya
bahwa dia adalah pria bertanggung jawab yang
bisa menjadi pemimpin rumah tangga yang baik. Sebelum saya lulus, kekasih saya memberanikan diri untuk
menemui orang tua saya dan meminta kesediaan mereka untuk merestui hubungan
kami kejenjang yang lebih serius. Orang tua saya keberatan, karena mereka tidak ingin kuliah saya berantakan karena menikah.
Mereka
juga menganggap bahwa calon suami saya dan saya
sendiri belum memiliki pondasi keuangan yang
cukup untuk membangun rumah tangga. Saya sadar
bahwa uang memang bukan segalanya, tetapi saya juga sadar bahwa uang adalah hal
yang penting untuk sebuah pernikahan, apalagi jika kelak saya sudah memiliki
anak. Tetapi saya dan kekasih saya meyakinkan pada orang tua kami bahwa jodoh
dan rezeki sudah ada yang mengatur, niat kami baik dengan menikah.
Kami tidak ingin pernikahan kami tidak mendapat restu,
sehingga kami pelan-pelan meminta kepercayaan orang tua kami bahwa kami akan
bertanggung jawab penuh pada keputusan kami untuk menikah. Akhirnya
restu itu kami dapatkan. Saya menikah sebelum
usia 22 tahun. Setelah menikah, kami langsung
tinggal di sebuah kontrakan kecil yang sangat
sederhana. Sebenarnya, jika saya mau, saya bisa
saya menumpang di rumah orang tua, tetapi kami
memutuskan untuk belajar mandiri dan bertanggung
jawab atas keputusan kami, seperti janji kami
kepada orang tua. Saya juga harus menuntaskan janji
untuk lulus dengan nilai yang baik.
Jujur,
saya melewati masa-masa yang sulit di awal pernikahan
kami. Suami saya harus membiayai uang kuliah
saya, membayar uang kontrakan, tagihan listrik dan
sebagainya. Untuk makan, saya tidak keberatan hanya
makan nasi, tahu dan sayur bayam bening setiap
hari, saya menikmatinya. Kami
tetap percaya bahwa menikah tidak akan menutup
pintu rezeki kami. Kami percaya rezeki kami telah
dipersiapkan, tetapi rezeki itu tidak akan jatuh begitu
saja, kami yang harus menjemput rezeki itu dengan
berbagai usaha. Banyak
orang menyayangkan keputusan saya untuk menikah
muda. Kehidupan saya yang berkecukupan sebelum
menikah harus saya ganti dengan hidup sederhana
bahkan prihatin. Tetapi janji Allah terbukti pada
pernikahan saya, Percayalah
Atas Keajaiban Rezeqi Setelah Menikah Orang
tua kami tidak menutup mata pada kehidupan pernikahan
kami, mereka sering menawarkan bantuan tetapi
saya dan suami menolak dengan halus.
Bukannya
kami tidak tahu diri, tetapi saya dan suami benar-benar
ingin belajar untuk mandiri dan menghargai
setiap keping materi yang telah kami kumpulkan.
Kami yakin, hal itu akan membuat kami lebih
menghargai kerja keras dan lebih bersyukur. Saya
tidak diam saja, walaupun masa wisuda harus menunggu
beberapa bulan, saya memberanikan diri untuk
memulai usaha kecil. Saya sejak kecil gemar menanam
tanaman hias, hampir semua tanaman hias yang ada
di halaman rumah orang tua saya adalah hasil
keterampilan tangan saya yang cukup sabar merawat
tanaman. Saya pikir, kenapa tidak dibuat usaha
saja, hasilnya bisa untuk membantu suami. Suami
saya mengizinkan saya dan memberi modal yang
cukup untuk membeli beberapa pot, bibit tanaman,
pupuk, kompos dan sebagainya.
Saya memulai usaha ini hanya dengan dua lusin pot
bunga. Saya jual pada warga di sekitar kontrakan
dan mereka dengan senang hati membelinya. Saya juga
tidak keberatan mengajari mereka bagaimana merawat tanaman tersebut dengan benar. Mulai dari situ, saya menerima beberapa pesanan. Sedikit demi sedikit usaha ini berkembang hingga saya diwisuda. Saya sengaja tidak melamar
pekerjaan di berbagai kantor, karena saya ingin fokus
pada bidang ini. Dan pada saat yang sama, saya
mendapat hasil positif pada tes kehamilan. Sungguh
sebuah momen yang membahagiakan dan mengharukan, saya dan suami menangis karena bahagia, kami
tidak berhenti mengucapkan syukur atas rezeki yang datang, tak hanya materi tetapi juga buah hati. Sedikit demi sedikit, usaha tanaman hias dan
usaha sablon suami saya berkembang.
Saya
mulai memperhatikan makanan untuk saya dan janin
di rahim saya. Kami sudah bisa membeli tempat
tidur yang lebih layak, karena sebelumnya, kami
memakai kasur tipis. Kami mulai mencicil membeli
pakaian bayi dan segala perlengkapannya. Semakin besar
usia kandungan saya, kami merasakan banyaknya limpahan rezeki.
Dulu, saya
sempat berpikir bagaimana jika saya hamil tetapi
tidak punya biaya untuk memeriksakan kandungan
ke dokter? Ternyata Allah menjawab doa saya
dengan waktu yang tepat, saya dan suami sudah memiliki
tabungan yang cukup, saya bias memeriksakan
kandungan ke dokter secara teratur. Hingga
saat saya melahirkan, kami sudah memiliki cukup
biaya. Putri kami lahir dengan sehat, kami memberinya
nama Kayla.
Kehadiran
Kayla semakin membuat suami saya bersemangat
mengumpulkan rezeki. Saya juga, walaupun
tidak sekeras sebelumnya karena saya harus
merawat Kayla dan memberi ASI. Sekarang, usia Kayla
sudah setahun. Saya sudah memiliki kios dan sebidang
rumah kaca untuk mengembangkan usaha. Sedikit
lagi, tabungan kami sudah cukup untuk membeli
rumah sederhana.
Percayalah,
jodoh dan rezeki sudah ada yang mengatur,
tinggal bagaimana kita menjemputnya. Jangan
takut untuk memutuskan menikah di usia muda,
selama Anda dan pasangan saling mendukung, bekerja
keras dan berdoa, rezeki tidak akan terhalang oleh
status pernikahan. Bukankah Allah sudah menjanjikan
akan membuka pintu rezeki melalui sebuah
pernikahan?
Semoga bermanfaat dalam mempelajari dan memahami ini