Kamis, 12 Maret 2015

Hadits tentang pertolongan Allah dan Bukti Kisahnya




TIGA ORANG YANG AKAN DITOLONG OLEH ALLAH

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam telah bersabda :
ثلاث حق على الله عونهم : المجاهدفى سبيل الله، المكاتب يريدالأداء، والناكح يريد العفاف (رواه الترميذى)
 “Tiga orang yang pasti Allah akan menolong mereka : orang yang berjihad di jalan Allah, Mukatab yang ingin menebus dirinya dan orang yang menikah dengan tujuan menjaga dirinya (dari yang haram)”      (Hadits tersebut dikeluarkan oleh At-Tirmidz 4/184, Nasa’i 6/61, Al-Hakim dalam Al-Mustadrak 2/160. At-Tirmidzi mengatakan : hadits hasan, Al-Hakim menyatakan shahih berdasarkan syarat Muslim dan di setujui oleh Ad-Dzahabi )
Kosa Kata Hadits
:ثلاث حق على الله عونهمMaksudnya adalah pertolongan dari Allah untuk mereka adalah pasti atau wajib bagi Allah menolong mereka sesuai dengan konsekuensi janjinya.
المكاتب :Yaitu hamba sahaya yang melakukan mukatabah (menebus diri untuk merdeka) dengan tuannya dengan cara membayar harta secara kredit. Apabila ia telah lunas membayarnya, maka merdekalah ia.
:الأداءMembayar tebusan kepada tuannya sebagai tebusan bagi dirinya.
Orang yang menikah yang bermaksud adalah untuk menjaga kemaluannya dari zina, homoseks dan yang semacamnya.
Makna Dari Hadits :
Allah telah menjanjikan kepada para hambanya yang beriman dengan pertolongan dan bantuan dariNya selama mereka bertakwa, beriman dan beramal shaleh serta mengikhlaskan agama hanya kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Allah Ta’ala berfirman :
وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا ۚ وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman diantara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan merobah (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa.Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku” (An-Nur : 55)
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
 “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik” (Al-Ankabut : 69)
إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ
 “Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan” (Al-Ankabut : 128)
Dan Allah telah memberi kekhususan bagi sebagian orang untuk mendapatkan tambahan pertolongan dan bantuan dariNya. Di antara mereka adalah orang-orang yang disebutkan dalam hadits ini, yaitu : orang yang berjihad di jalan Allah, orang yang menikah yang ingin menjaga dirinya (dari perbuatan haram) dan mukatib yang benar-benar ingin membayar tebusan dirinya. Dalam hadits ini terdapat isyarat yang terkandung bahwa seorang mukmin, mungkin baginya untuk melakukan perkara-perkara seperti ini walaupun dia tidak memiliki sarana yang cukup. Ini karena sangat percayanya dia terhadap kepastian pertolongan dan bantuan dari Allah.
Alasan dikhususkannya tiga orang tersebut, sebagaimana dikatakan oleh Ath-Thibi : “Karena perkara-perkara ini adalah termasuk dari perkara yang sangat berat yang menyulitkan dan sangat membebaninya”
Pelajaran Yang Bisa Diambil Dari Hadits
  1. Pertolongan Allah bagi hamba-hambaNya yang beriman dan mereka bertiga disebut secara khusus dalam hadits, dikarenakan sangat beratnya kesusahan yang mereka alami dalam perkara-perkara tersebut.
  2. Dianjurkannya menolong para mereka yang disebutkan dalam hadits, karena itu adalah termasuk pemberian pinjaman kepada Allah dengan cara yang baik (al-qardhul hasan). Walallahu A’lam
(Diterjemahkan dari kitab “Arba’una Haditsan Kullu Hadits Fii Tsalatsi Khishol”, penyusun : Syaikh Shaleh As-Sadlan, diposting oleh Abu Maryam Abdusshomad)

ABU UMAMAH AL-BAHILI MENDAKWAHI ORANG KAMPUNGNYA

Abu Umamah Al-Bahili, demikian panggilan popular sahabat ini. Panggilan ini (kun-yah) mengalahkan ketenaran nama aslinya. Terlahir dengan nama Shudai bin Ajlan, dari suku Bahilah. Termasuk sahabat yang banyak memiliki riwayat dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam. Wafat pada tahun 81 atau 86 H.
Tugas dakwah dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam menjadi tanggungan di pundaknya. Ia didelegasikan untuk menyeru kaumnya sendiri, orang-orang yang masih terkait hubungan darah dengannya. Imam Ath-Thabrani meriwayatkan misi dakwah Abu Umamah di kampung halamannya, suku Bahilah. Ia menuturkan, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mengutusku (untuk berdakwah) kepada kaumku, suku Bahilah. Sesampai di sana aku dalam keadaan lapar. Saat itu, mereka sedang menyantap makanan. Namun mereka menyatap makanan yang terbuat dari darah. Mereka menghormati diriku dengan menyambut kedatanganku;
“Selamat datang wahai Shudai bin Ajlan. Kami dengar engkau telah keluar dari agama nenek moyang untuk mengikuti laki-laki itu (Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam).”
“Bukan seperti itu. Aku hanya beriman kepada Allah dan rasul-Nya. Ia pula mengutusku untuk menawarkan Islam dan syariat kepada kalian.” Jawab Abu Umamah radhiallahu’anhu.
Mereka malah mempersilakan aku untuk bersantap bersama menikmati hidangan dari darah, “Kemarilah, makan (bersama kami).”
“Celaka kalian. Aku datang untuk melarang kalian dari ini (makan darah). Aku adalah utusan dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam agar kalian mau mengimani beliau.” Terang Abu Umamah.
Mulailah Abu Umamah radhiallahu’anhu mendakwahi dan menyeruk mereka untuk memeluk Islam. Akan tetapi, mereka mendustakan dan membentaknya. “Bisa saya minta sedikit air, aku haus sekali.” Kata Abu Umamah meminta.
Akan tetapi mereka menolaknya dan mengatakan, “Tidak, kami akan membiarkan engkau mati kehausan!” sergah mereka.
Dalam keadaan lapar dan haus yang menjerat, Abu Umamah beranjak dari sisi mereka. Ia bersedih hati. Kain imamah ia tutupkan ke kepalanya. Kemudian tertidur meskipun dalam keadaan cuaca yang sangat panas itu. Dalam tidurnya, ia bermimpi disodori minuman dari susu, tidak pernah ada susu yang lebih lezat darinya. Ia meminumnya sampai kenyang sehingga perutnya tampak penuh.
Setelah perlakuan kasar yang ditujukan kepada Abu Umamah, orang-orang di sukunya berkata (karena menyesal), “Seorang lelaki dari tokoh dan pembesar suku datang, tapi kalian mencampakkannya. Cari dan berilah ia makan dan minum yang ia inginkan.”
Kemudian mereka mendatangi Abu Umamah radhiallahu’anhu dengan membawa makanan. Beliau menyambut kedatangan mereka sambil mengatakan, “Aku sudah tidak butuh lagi makanan dan minuman dari kalian. Allah ‘Azza wa Jalla telah memberi makan dan minuman kepadaku. Lihatlah kondisiku sekarang.”
Beliau perlihatkan perutnya yang penuh. Mereka melihatnya dan akhirnya beriman kepada apa yang Abu Umamah dakwahkan dari sunah Rasul shalallahu ‘alaihi wa sallam. Semuanya pun beriman kepada Allah dan rasul-Nya.

PERTOLONGAN ALLAH UNTUK ORANG YANG JUJUR

Kisah Muslim – Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa seorang laki-laki dari kalangan Bani Israil meminta kepada seseorang Bani Israil lainnya agar memberikan pinjaman kepadanya seribu dinar. Lalu si pemberi pinjaman berkata, “Datangkanlah para saksi. Saya meminta mereka untuk bersaksi.”
Lantas orang yang meminta pinjaman berkata, “Cukuplah Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menjadi saksi.” Pemberi pinjaman menambahkan, “Datangkanlah seorang penjamin,.”
Dia menjawab, “Cukuplah Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai penjamin.” Pemberi pinjaman berkata, “Engkau benar.” Kemudian dia menyerahkan piutang tersebut kepadanya sampai waktu yang ditentukan.
Selanjutnya si peminjam pergi mengarungi lautan untuk memenuhi kebutuhannya. Setelah itu, dia mencari kendaraan yang akan digunakan untuk mendatangi pemberi pinjaman sesuai waktu yang telah ditetapkan. Ternyata dia tidak menemukan kendaraan. Lantas dia mengambil kayu dan melubanginya, lalu dia memasukkan seribu dinar di dalamnya dan selembar kertas darinya untuk temannya (si pemberi pinjaman). Kemudian dia meratakan tempatnya kembali.
Selanjutnya dia membawa kayu tersebut ke laut. Dia berkata, “Ya Allah! Sungguh, Engkau mengetahui bahwa saya meminjam seribu dinar kepada si fulan, lalu dia meminta penjamin kepadaku dan saya berkata, ‘Cukuplah Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai penjamin.’ Dia pun ridha karena Engkau. Dia juga meminta saksi, lalu saya berkata, ‘Cukuplah Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadi saksi.’ Dia pun ridha karena Engkau. Sesungguhnya saya telah bersusah payah untuk menemukan kendaraan untuk mengantarkan utangku kepada pemiliknya, ternyata saya tidak menemukan. Sungguh, saya menitipkan kayu ini kepada-Mu.”
Lantas dia melemparkannya ke laut sampai masuk ke dalam laut kemudian bergerak. Di samping itu dia masih saja mencari kendaraan untuk menuju ke daerahnya.
Di lain pihak, si pemberi pinjaman menanti-nanti barangkali kendaraan yang membawa piutangnya telah datang. Ternyata ada kayu yang mengapung di dekatnya. Lalu dia mengambil kayu tersebut untuk dijadikan sebagai kayu bakar buat keluarganya. Ketika dia menggergajinya, dia menemukan uang dan selembar kertas. Kemudian si peminjam hutang datang dan memberikan seribu dinar, lalu dia berkata, “Demi Allah, saya telah bersusah payah mencari kendaraan untuk menyerahkan piutangmu. Ternyata saya tidak menemukan kendaraan sebelum saya datang sekarang ini.”
Setelah beberapa waktu kemudian, teman yang meminjam uang darinya telah sampai. Dia bertanya, “Apakah engkau pernah mengirimkan sesuatu kepadaku?”
Dia menjawab, “Saya kan sudah bilang bahwa saya tidak menemukan kendaraan sebelum saya datang sekarang ini.” Dia berkata, “Allah telah mengantarkan darimu sesuatu yang engkau kirimkan melalui kayu dan mengalir dengan membawa seribu dinar.”(HR. Al-Bukhari).
Sumber: Hiburan Orang-orang Shalih, 101 Kisah Segar, Nyata dan Penuh Hikmah, Pustaka Arafah Cetakan  1

MENIKAH DI USIA MUDA

Kisah ini dimulai saat saya masih menjadi seorang mahasiswi, usia saya saat itu 21 tahun. Ketika itu, saya memiliki kekasih yang berusia satu tahun lebih tua dari saya. Dia adalah pria yang baik, tidak pernah meninggalkan ibadah wajib dan memiliki usaha sablon pakaian sejak lulus dari SMA.
Memang, usahanya ini masih skala kecil, tetapi kesungguhannya untuk mandiri membuat saya percaya bahwa dia adalah pria bertanggung jawab yang bisa menjadi pemimpin rumah tangga yang baik. Sebelum saya lulus, kekasih saya memberanikan diri untuk menemui orang tua saya dan meminta kesediaan mereka untuk merestui hubungan kami kejenjang yang lebih serius. Orang tua saya keberatan, karena mereka tidak ingin kuliah saya berantakan karena menikah.
Mereka juga menganggap bahwa calon suami saya dan saya sendiri belum memiliki pondasi keuangan yang cukup untuk membangun rumah tangga. Saya sadar bahwa uang memang bukan segalanya, tetapi saya juga sadar bahwa uang adalah hal yang penting untuk sebuah pernikahan, apalagi jika kelak saya sudah memiliki anak. Tetapi saya dan kekasih saya meyakinkan pada orang tua kami bahwa jodoh dan rezeki sudah ada yang mengatur, niat kami baik dengan menikah.
Kami tidak ingin pernikahan kami tidak mendapat restu, sehingga kami pelan-pelan meminta kepercayaan orang tua kami bahwa kami akan bertanggung jawab penuh pada keputusan kami untuk menikah. Akhirnya restu itu kami dapatkan. Saya menikah sebelum usia 22 tahun. Setelah menikah, kami langsung tinggal di sebuah kontrakan kecil yang sangat sederhana. Sebenarnya, jika saya mau, saya bisa saya menumpang di rumah orang tua, tetapi kami memutuskan untuk belajar mandiri dan bertanggung jawab atas keputusan kami, seperti janji kami kepada orang tua. Saya juga harus menuntaskan janji untuk lulus dengan nilai yang baik.
Jujur, saya melewati masa-masa yang sulit di awal pernikahan kami. Suami saya harus membiayai uang kuliah saya, membayar uang kontrakan, tagihan listrik dan sebagainya. Untuk makan, saya tidak keberatan hanya makan nasi, tahu dan sayur bayam bening setiap hari, saya menikmatinya. Kami tetap percaya bahwa menikah tidak akan menutup pintu rezeki kami. Kami percaya rezeki kami telah dipersiapkan, tetapi rezeki itu tidak akan jatuh begitu saja, kami yang harus menjemput rezeki itu dengan berbagai usaha. Banyak orang menyayangkan keputusan saya untuk menikah muda. Kehidupan saya yang berkecukupan sebelum menikah harus saya ganti dengan hidup sederhana bahkan prihatin. Tetapi janji Allah terbukti pada pernikahan saya, Percayalah Atas Keajaiban Rezeqi Setelah Menikah Orang tua kami tidak menutup mata pada kehidupan pernikahan kami, mereka sering menawarkan bantuan tetapi saya dan suami menolak dengan halus.
Bukannya kami tidak tahu diri, tetapi saya dan suami benar-benar ingin belajar untuk mandiri dan menghargai setiap keping materi yang telah kami kumpulkan. Kami yakin, hal itu akan membuat kami lebih menghargai kerja keras dan lebih bersyukur. Saya tidak diam saja, walaupun masa wisuda harus menunggu beberapa bulan, saya memberanikan diri untuk memulai usaha kecil. Saya sejak kecil gemar menanam tanaman hias, hampir semua tanaman hias yang ada di halaman rumah orang tua saya adalah hasil keterampilan tangan saya yang cukup sabar merawat tanaman. Saya pikir, kenapa tidak dibuat usaha saja, hasilnya bisa untuk membantu suami. Suami saya mengizinkan saya dan memberi modal yang cukup untuk membeli beberapa pot, bibit tanaman, pupuk, kompos dan sebagainya.
Saya memulai usaha ini hanya dengan dua lusin pot bunga. Saya jual pada warga di sekitar kontrakan dan mereka dengan senang hati membelinya. Saya juga tidak keberatan mengajari mereka bagaimana merawat tanaman tersebut dengan benar. Mulai dari situ, saya menerima beberapa pesanan. Sedikit demi sedikit usaha ini berkembang hingga saya diwisuda. Saya sengaja tidak melamar pekerjaan di berbagai kantor, karena saya ingin fokus pada bidang ini. Dan pada saat yang sama, saya mendapat hasil positif pada tes kehamilan. Sungguh sebuah momen yang membahagiakan dan mengharukan, saya dan suami menangis karena bahagia, kami tidak berhenti mengucapkan syukur atas rezeki yang datang, tak hanya materi tetapi juga buah hati. Sedikit demi sedikit, usaha tanaman hias dan usaha sablon suami saya berkembang.
Saya mulai memperhatikan makanan untuk saya dan janin di rahim saya. Kami sudah bisa membeli tempat tidur yang lebih layak, karena sebelumnya, kami memakai kasur tipis. Kami mulai mencicil membeli pakaian bayi dan segala perlengkapannya. Semakin besar usia kandungan saya, kami merasakan banyaknya limpahan rezeki.
Dulu, saya sempat berpikir bagaimana jika saya hamil tetapi tidak punya biaya untuk memeriksakan kandungan ke dokter? Ternyata Allah menjawab doa saya dengan waktu yang tepat, saya dan suami sudah memiliki tabungan yang cukup, saya bias memeriksakan kandungan ke dokter secara teratur. Hingga saat saya melahirkan, kami sudah memiliki cukup biaya. Putri kami lahir dengan sehat, kami memberinya nama Kayla.
Kehadiran Kayla semakin membuat suami saya bersemangat mengumpulkan rezeki. Saya juga, walaupun tidak sekeras sebelumnya karena saya harus merawat Kayla dan memberi ASI. Sekarang, usia Kayla sudah setahun. Saya sudah memiliki kios dan sebidang rumah kaca untuk mengembangkan usaha. Sedikit lagi, tabungan kami sudah cukup untuk membeli rumah sederhana.
Percayalah, jodoh dan rezeki sudah ada yang mengatur, tinggal bagaimana kita menjemputnya. Jangan takut untuk memutuskan menikah di usia muda, selama Anda dan pasangan saling mendukung, bekerja keras dan berdoa, rezeki tidak akan terhalang oleh status pernikahan. Bukankah Allah sudah menjanjikan akan membuka pintu rezeki melalui sebuah pernikahan?


Semoga bermanfaat dalam mempelajari dan memahami ini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar